Thursday, February 8, 2018

Steril Kucing. Gimana Menurut Kamu?

Apa yang pertama kali terbersit di pikiranmu waktu mendengar "sterilisasi hewan peliharaan"?
Yap, no babies!

Di sini kita cerita steril kucing ya.
Apakah si kucing sedih kalau dia tidak bisa jadi ayah atau ibu, seperti cerita di kartun-kartun Disney?
Hehehe, ternyata itu cuma bagian untuk mempermanis jalan cerita di dalam film.
Toh juga di film kartun itu tidak diperhitungkan siklus asli perkawinan dan kelahiran kucing yang bisa mencapai 3 kali satu tahun dan 4-5 anak dalam sekali kelahiran, kan?

Lalu, apakah sterilisasi itu merenggut hak asasi kucing tersebut? Apa kita menzalimi kucing tersebut? Apa kita egois? Hmm... ayo kita bahas.



Hari ini dillajimbo, adik saya, share beberapa hal mengenai kucing di instastory-nya untuk membuka pikiran bersama (sekaligus curhat sepertinya :v).
Saya jadi tergerak untuk mendokumentasikan bahasan tersebut di sini.


*****

Berhubung banyak yang nanya lewat DM, Dilla jelasin di instastory aja ya 😄
Dari kemaren banyak yang tanya:
- Kenapa kucingnya disteril?
- Kan kasian ga bisa punya anak.
- Ga melanggar hak asasi hewan ya?
- Kejam ngga tuh?

Steril sama sekali ga melanggar hak asasi hewan kok, InsyaAllah 😊
Bahkan semua manfaatnya untuk kucing itu sendiri. Sama sekali ga ada mudharatnya.
Jadi jangan anggap karena keegoisan manusia ya :")

Sterilisasi adalah proses pengangkatan organ reproduksi kucing yang di-handle oleh dokter hewan.
Saat prosesnya berlangsung, kucing dibius. Jadi ga bakal terasa sakitnya.


Harus ya disteril?

Jadi gini...
Saat kucing udah mulai puber (umur 6 bulan ke atas), hormon reproduksinya akan selalu aktif.
Jadi mereka pasti punya periode rutin "ingin kawin/birahi".
Apalagi kucing jantan, birahinya ga berjadwal, setiap hari dia akan berburu betina.
Kalau kucing betina periode birahinya kurang lebih 3 kali dalam setahun.


Kalau keinginan untuk kawin ga terpenuhi, bagaimana?

Kalau keinginannya untuk kawin ga terpenuhi, kita bisa lihat perubahan pada sikap dan tubuh kucing.
Bulu rontok, kusut, jarang membersihkan badan, kurang selera makan, badan menjadi kurus, murung, dll. Macam-macam deh.

Beberapa tanda itu pasti kita lihat kalau birahi si kucing ga terpenuhi (bagi yg memelihara kucing pasti pernah lihat kucingnya seperti itu). Itu karena apa? Karena mereka stress. Mereka akan uring uringan dan mengeong ngeong memanggil pasangan. Stress ini yang akan memancing berbagai macam penyakit.

Nah, dengan sterilisasi - yang merupakan proses pengangkatan organ reproduksi kucing - otomatis hormon reproduksinya juga tidak akan muncul lagi. Kucing ga bakal lagi merasakan yang namanya ingin kawin/birahi.

Kucing hanya akan memiliki hormon untuk tumbuh dan berkembang.
Makanya kucing yang telah disteril biasanya badannya lebih gemuk, sehat dan lincah, karena sekarang pikirannya hanya main, makan, tidur, pipis, eek, kejar cicak. Hehe.

Dari banyak pengalaman, steril juga bisa bikin umur kucing insyaAllah lebih panjang karena dia lebih sehat dan banyak penyakit-penyakit parah yang bisa dihindari. Menurut beberapa sumber, umurnya akan lebih panjang 2-3 tahun.


Nah ga ada ruginya kan buat kucing?
Malah dia bisa hidup lebih sehat dan bahagia.
Bahkan kucing yg udah disteril lebih suka main di rumah dan tujuan mainnya ga terlalu jauh. 😊

Menurut Dilla gapapa kok kita steril kucing peliharaan, karena tujuan utamanya memang untuk kehidupan kucing yang lebih baik. Agar kucing kita lebih sehat dan lebih bahagia hidupnya. Kita juga bisa fokus hanya memperhatikan dia.

Tujuan kita memelihara kucing bukan untuk ternak, koleksi, atau bisnis kucing kan?
Tapi agar kita bisa memberi kehidupan yang baik untuk mereka 😊😊

Jadi jangan anggap steril itu zalim yaa :")


NEXT
Ini cerita pengalaman Dilla selama beberapa tahun mengurus kucing.

Awalnya kucing Dilla cuma satu ekor, betina, Enyuh namanya. Dalam setahun dia melahirkan 2 kali.
Jadi dalam setahun Dilla bisa punya 9 ekor kucing.
Nah si induk ini akan produktif terus karena kucing ga mengenal menopause, dan anaknya yg 9 ekor ini juga 6 bulan ke depan juga akan produktif.
Bayangkan dalam dua tahun Dilla bisa punya berapa kucing? :")
Ini baru satu kucing awal mulanya, bisa dibayangkan kalau semua kucing seproduktif itu, kan?

Kalau kucingnya ada yang ngurus ya ga masalah, ada manusia yg perhatiin.
Tapi lihat aja kucing-kucing liar. Sering kita lihat anak kucing terlantar. Ada yang kelaparan, ada yang mengeong-ngeong minta dibawa pulang, ada yg mati di pinggir jalan.
Tambah lagi banyak juga manusia yang suka buang-buang anak-anak kucing karena ga sanggup ngurus atau merasa terganggu, jadi dibuang seenaknya.
Sukak sedih kan, kasian 😢

Balik ke cerita kucing Dilla yg tadi.
Akhirnya bertambahlah jumlah kucing Dilla seiring berjalannya waktu.
Enak kalo misalnya banyak yang tertarik untuk adopsi, sudah jelas ada yang akan ngurusin.
Tapi yang minat adopt cuma beberapa orang. Jarang orang mau adopsi kucing kampung, apalagi kalau ga ada keunikannya. Padahal diurusin sebaik mungkin kok kucingnya :")

Bisanya kan orang-orang suka milih yang warna bulunya bagus dan terang.
(Kucing-kucing dilla yang bulunya hitam ga pernah ada yang mau adopt, padahal kucing terlucu sedunia 😭)
*curhat

Kalau ga ada yang adopt, ga mungkin kan anak kucingnya Dilla buang. Mana tega. Rasanya itu lebih zalim lagi. 😢
Tapi berhubung biaya steril untuk satu ekor kucing lumayan mahal, dan Dilla ga sanggup, akhirnya dilla urusin terus hingga anak cucunya.

Ujung-ujungnya jadi banyak kucing menumpuk di satu lingkungan.
Padahal Dilla ga ada niat sama sekali untuk ngoleksi kucing sebanyak mungkin. Niat awalnya cuma pengen ngerawat dan ngasih kehidupan yang layak aja buat adek-adek kucing.

Makanya Dilla berusaha banget promosiin ke teman-teman, nyari adopter buat adek-adek kucing, walau ada beberapa orang yang adopt, tp masih ga sebanding sama jumlah anak kucing yg banyak :")


Nah lingkungan yang overpopulasi kucing itu ga baik juga untuk kucingnya sendiri. Penyakit gampang menular antar mereka, satu kena virus bisa mati semua karena virus. Persaingan mencari makan juga makin susah. Alhasil itu ga baik untuk kucing-kucingnya juga.

(btw makasih banyak untuk yg udah adopt kucing2 dilla selama ini, kalian adalah the real hero)
:")


*****

Begitulah curhat, eh, bahasan Dilla tentang sterilisasi kucing. 😄
Jadi, gimana steril kucing menurut pendapatmu? Kalau ingin tahu lebih jauh, berikut beberapa sumber informasi lainnya mengenai sterilisasi kucing / hewan peliharaan:

petlogue.com: 8 Fakta Penting Seputar Sterilisasi / Kebiri Kucing.
tanyadokterhewan.com: Penjelasan Lengkap Manfaat Sterilisasi Pada Kucing dan Anjing.
ilmuhewan.com: Manfaat Sterilisasi Pada Kucing dan Anjing.
cattery.co.id: Keuntungan Sterilisasi Pada Kucing.
rumahsteril.org: Manfaat Steril Kucing.
moeslema.com: Sterilisasi Kucing Betina.
homievetcare.com: Pro Kontra Sterilisasi dan Kastrasi.
rajapetshop.com: Keuntungan dan Kerugian Sterilisasi Pada Kucing Betina.






Saturday, June 17, 2017

Resensi Buku: After Orchard

Judul: After Orchard
Penulis: Margareta Astaman
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: Agustus 2010
Dimensi: vi + 194 hlm.; 13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-709-516-1


Berbekal beberapa kali pengalaman jalan-jalan ke Singapura, Margareta Astaman - Margie - menaruh harapan indah saat berangkat sebagai mahasiswa baru sebuah universitas bergengsi di Singapura; tanah impian destinasi liburan. Orchard Road. Merlion. Belanja. Bersih. Hijau. Rapi. Aman. Margie membayangkan ia akan merasakan suasana liburan setiap hari selama menempuh masa pendidikan di sana.

Ternyata kehidupan sebenarnya di Singapura jauh dari bayangan pengalaman 3 hari 2 malam sebagai turis. Tinggal sebagai mahasiswa selama empat tahun memberikan definisi lain atas Singapura bagi Margie: Bahwa Singapura tak sekedar Orchard Road. Keramahan dan kenyamanan yang ia dapatkan sebagai turis sama sekali berbeda dengan yang ia dapatkan selama menjadi mahasiswa, bukan di Orchard Road tentunya, tetapi di lingkungan sosial Singapura yang sesungguhnya.

Mulai dari perjuangan mendapatkan kamar asrama, ranjang kutuan, tren bunuh diri menyusul kegagalan, betapa langkanya kesempatan mendapatkan sahabat, hingga budaya "gancheong", "kiasu", dan "kiasi" dituturkan Margie lewat kisah-kisah penuh humor dan ironi sebagai pengalamannya menjadi bagian dari sistem pendidikan dan keseharian hidup dalam masyarakat Singapura. Sebuah pengalaman yang jauh dari impian promo wisata, hidup turis, dan Orchard Road.

Saya menyukai cara penuturan yang disampaikan oleh Margareta Astaman. Satu-dua ilustrasi yang mendampingi cukup mewakili cerita-cerita yang disampaikan. Membuat kita dapat membayangkan bagaimana suasana dalam cerita tersebut.

Yang dapat dipertik dari buku ini: Ada hal positif yang harus kita tiru dari sistem meritokrasi di Singapura, yaitu kedisiplinan, kegigihan dan etos kerja. Namun tidak dapat dipungkiri ada juga hal negatif yang menjadi akibat dari individualisme dan kekakuan tatanan hidup di sana.

***

"Secara aneh, kita punya semakin banyak orang di dunia, tapi semakin sedikit yang saling mengenal." (Hal. 143)

Tuesday, June 7, 2016

Resensi Buku: Cerpen Pilihan Kompas 2013

Judul: Cerpen Pilihan Kompas 2013
Penulis: Penulis Terpilih Kompas 2013
Penerbit: PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit: 2014
Dimensi: xx + 248 halaman, 21 cm
ISBN: 978-979-709-838-4


Tahun 2014 lalu akhirnya dirangkum cerpen-cerpen terpilih dari seluruh cerpen yang terbit di Kompas sepanjang tahun 2013. Sebanyak 23 cerpen terpilih ini mewakili empat analogi peran bahasa. Menurut Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika Universitas Parahyangan Bandung, bahasa dapat berperan sebagai semacam kuda, sejenis mata bor, sebuah kamera dan sebagai kemungkinan terbuka yang dapat mewujud menjadi apa saja.


1
~~~
Jika bahasa adalah kuda, maka cerpen menungganginya dan membimbing kita ke berbagai ranah asing; ranah yang mungkin tak pernah terlihat di peta, namun sebenarnya berada di sekeliling. Banyak cerpen di buku ini membawa kita antara lain ke ranah mitos, memasuki aura mistiknya, dan memain-mainkan logika surealisnya.
~~~

Cerpen "Trilogi" dari A. Muttaqin mengantar kita ke sebuah kota yang memiliki sumur misterius, sumur jelmaan kemaluan, yang mengeluarkan burung iblis dan sepuluh malaikat.

"Bulan Biru" karya Gus tf Sakai membawa kita ke sebuah dunia tempat binatang bisa berbicara seperti manusia. Ada apercakapan antara kura-kura, bebek dan gadis kecil di bawah bulan biru, "saat waktu terlipat, saat ujung bertemu ujung": percakapan tentang peran bangunan-bangunan monumental dalam kekuasaan otokrasi, yang dibuat untuk mengelabui rakyat.

Cerita "Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati" karya Agus Noor menyeret kita ke sebuah hutan jati di kampung Jatilawang untuk menyaksikan perang tanding antara seorang sakti bersorban --yang melayang di atas daun-- dengan pimpinan ulat bulu, ulat jelmaan kebencian korban pembantaian yang menuntut keadilan. Di sini kita diingatkan kembali pada trauma sejarah yang sering dianggap berlalu bersama waktu.

Dewi Utari dengan "Pada Jam 3 Dini Hari" mengajak kita ke sebuah gazebo di belakang rumah. Di sana kita melihat pertemuan seorang pelukis dengan perempuan misterius setiap jam 3 dini hari. Perempuan itu berhasil membangkitkan inspirasi sang pelukis dengan cerita-cerita mistisnya.

Kita menuju ke Jakarta bersama F Rahardi dan cerpennya "Amin". Kita diturunkan di depan Istana Merdeka, di sana ada seorang aneh yang sepanjang hari bersila dengan tangan sedekap menatap lurus ke istana. Setiap pertanyaan, komentar atau reaksi apa pun dari orang sekeliling, dijawabnya dengan satu kata: "Amin". Sikap yang aneh tersebut menimbulkan kecurigaan dan kemarahan tentara sehingga dia diusir dengan berbagai cara sampai diberondong senapan mesin dari sebuah tank, namun ia tetap tak terusik. Massa lantas mengelu-elukannya. Sebuah parodi tajam atas sikap paranoid aparat sekaligus atas kekonyolan pola pikir mistis para masyarakat.


2
~~~
Jika bahasa adalah mata bor, maka cerpen menggunakannya untuk menembus permukaan pengalaman keseharian, mengintip lapisan-lapisannya yang lebih dalam, menelisik aneka misteri dan ambiguitas batinnya yang paling tersembunyi. Beberapa cerpen di buku ini seperti lubang-lubang intip kecil ke arah realitas yang kerap terselubung.
~~~

Cerpen "Serigala di Kelas Almira " tulisan Triyanto Triwikromo memungkinkan kita mengintip ceruk-ceruk dunia mental anak-anak berkebutuhan khusus, yang kerap tak lazim, pelik dan mendebarkan.

Cerpen "Saia" karya Djenar Maesa Ayu, mengajak kita menyelami keterpecahan mental seorang anak yang hidup dalam ambivalensi sikap kedua orang tuanya: kasih sayang penuh kekerasan.

"Rumah Tuhan" dari AK Basuki membuat kita meneropong keunikan sikap batin seorang ibu melalui kacamata seorang anak. Ibu yang telah puas dengan kebahagiaannya sendiri, lantas menganggap derita dan sakit orang lain menjadi miliknya juga. Maka kegiatan utamanya adalah mengunjungi orang-orang sakit, yang diyakininya sebagai 'rumah Tuhan'. Keyakinan ini tetap konsisten bahkan ketika yang sakit dan harus dikunjunginya adalah mantan suaminya yang telah berkhianat. Sebuah misteri kematangan batin manusia yang bisa tak terduga.

Sudut pandang ruh anak-anak digunakan pada cerita "Malam Hujan Bulan Desember" dari Guntur Alam. Di sana kita melihat misteri batin seorang ayah yang kendati membunuh istri dan anaknya, matanya berkaca-kaca setelah melakukannya.

Sungging Raga dengan "Alesia" bercerita tentang perasaan seorang anak yang mengorbankan diri demi kesembuhan ibunya.

Persepsi mental yang unik kita dapati pada cerpen Arswendo Atmowiloto, "Nenek Grendi Punya HP, tapi Berharap Sungai". Di sini kita menemukan persepsi seorang nenek yang ganjil atas realitas. Di antara banyak keganjilan itu yang paling aneh adalah ketika ia bercita-cita membeli sungai, dan alasannya sederhana, "karena sungai mengalir".

Putu Wijaya dengan karyanya "Eyang" membuka mata kita atas ambiguitas sikap mental manusia dalam hubungan-hubungan sosialnya. Seseorang yang sedang bokek berat dititipi orang tua (Eyang) oleh si bos yang hendak pergi liburan. Eyang yang dikira akan menjadi beban ternyata justru menjadi berkah yang menghidupkan.

Paradoks-paradoks sikap manusia memang bisa membingungkan. Hal itu tampak pada karya Jujur Prananto, "Piutang-piutang Menjelang Ajal". Chaerul berutang besar pada pamannya, namun ketika pamannya menghapuskan utangnya, ia malah kena stroke.


3
~~~
Jika bahasa adalah kamera, maka cerpen menggunakannya untuk menangkap impresi sekelebat yang mengisyaratkan berbagai kemungkinan makna; membuat snapshot yang mengubah suasana menjadi tanda.
~~~

Cerpen "Kota Tanpa Kata dan Air Mata" dari Noviana Kusumawardhani memotret kota, menangkap kenyataan bahwa di balik hiruk-pikuk suasana mal, jalanan, bus kota, kafe atau stasiun itu, ternyata ada kesunyian mendasar. Kesunyian karena seluruh kota telah dirajai teks, orang-orang dibelenggu teks (sms, sosial media dan surat-surat elektronik pada gadget mereka). Teks telah memenjarakan manusia di dunianya masing-masing.

Budi Darma lewat karyanya "Percakapan" memberikan snapshot tentang pertemuan dia orang di sebuah kedai kopi. Awalnya mereka terkesan tidak saling kenal, namun perlahan-lahan percakapan mereka menunjukkan bahwa antara keduanya pernah terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup masing-masing dan menyisakan dendam berkelanjutan.

"Pengacara Pikun" karya Gerson Poyk dan beberapa cerpen lain di buku ini seperti "Serpihan di Teras Rumah" dari Zaidinoor, "Sumpah Serapah Bangsawan" dari Gde Aryantha Soethama, dengan cara masing-masing adalah juga berbagai jepretan yang menyiratkan persoalan lebih besar di balik kesan permukaan.

4
~~~
Jika bahasa adalah kemungkinan, maka cerpen memberinya wujud, membuatnya menjadi apa saja, sesuai kecakapan penulisnya.
~~~

Cerpen menjadi cermin yang memantulkan wajah interior buruk seorang pembunuh misterius pada cerpen "Aku, Pembunuh Munir" karya Seno Gumira Ajidarma, salah satu cerpen paling kreatif di buku ini. Isi cerpen ini perpaduan menarik antara kejelian menggunakan data, penelusuran logika ala detektif, dan sarkasme yang tajam. Bentuknya berupa monolog pengakuan diri. Strukturnya eksperimental, alur cerita disisipi kutipan percakapan konyol dari proses pengadilan, juga diselipi puisi penguat suasana dan emosi.

Pada karya Joko Pinurbo, "Laki-laki Tanpa Celana", kata-kata dan kenyataan saling berkelindan. Puisi berinkarnasi menjadi peristiwa. Peristiwa menguap menjadi imajinasi. Cerpen ini mengembalikan daya magis pada bahasa, pada kata-kata.

Keterampilan mengubah bahasa menjadi garis-garis sketsa impresionis yang ringkas dan bernas tampil paling mempesona pada cerpen "Klub Solidaritas Suami Hilang" dari Intan Pramaditha. Dengan serba singkat dan efisien, namun tanpa kehilangan plastisitas, cerpen ini melukiskan keunikan dan kompleksitas hubungan-hubungan pernikahan yang mendadak patah secara tak terduga. Metafor-metafornya segar, kadang mengejutkan. seolah sambil lalu tanpa banyak pretensi, cerpen ini menyibak aneka kebusukan, kepahitan, dan misteri hubungan antarmanusia, secara jeli, mendalam, dan menikam. Segala keterampilan yang dituntut untuk mencipta sebuah cerita pendek yang bagus ternyata berkulminasi pada cerpen ini.

***

Sebagai catatan, ulasan tentang buku ini merupakan kutipan dari Epilog "Catatan Pendek Atas Cerita-Cerita Pendek" yang ditulis oleh Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika Universitas Parahyangan Bandung. Saya menganggap bahasan ini merupakan gambaran lengkap dan sangat mewakili kesan saya setelah membaca Kumpulan Cerpen Kompas 2013.

Saturday, June 4, 2016

Resensi Buku: Hujan Bulan Juni (Novel)

Judul: Hujan Bulan Juni (Novel)
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juni 2015
Genre: Novel / Sastra
Dimensi: 135 halaman, 20 cm
ISBN: 978-602-03-1843-1


Sarwono percaya bahwa manusia yang sama-sama masih hidup bisa berkomunikasi tanpa harus bertemu muka. Inti kehidupan itu komunikasi dan komunikasi itu inti kehidupan. Puisi itu komunikasi, dan komunikasi itu shaman. Shaman itu medium. Maka puisi itu shaman. Ia yakin puisinya yang dimuat di koran dapat menghubungkannya dengan seorang perempuan yang nun jauh di sana, Pingkan.

Dari puisi, menjadi lagu, kemudian komik, dan nanti film. Kini Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono beralih warna menjadi novel. 

Ulasan tentang novel Hujan Bulan Juni menjadi pembuka di Juni 2016 ini. Sebenarnya sudah sejak tahun lalu saya selesai membaca novel Hujan Bulan Juni, saat cetakan pertama novel ini terbit -- entah sekarang sudah cetakan keberapa.

Sapardi kembali mengangkat tema tentang cinta, yang kali ini lebih spesifik menceritakan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan budaya dan agama mewarnai kisah di dalamnya. Bagaimana para tokoh menyiasati kehidupan sosial pun tergambar secara menarik di sini. Pembaca pada akhirnya diyakinkan bahwa perbedaan adalah anugerah, dan tidak ada yang berhak menyeragamkan sesuatu.

Secara keseluruhan, saya dapat katakan bahwa novel ini adalah bacaan saat senggang. Kita harus benar-benar santai dan fokus saat membacanya, karena paparan bahasa di dalam novel ini masih bertutur seperti puisi. Ada makna-makna tersembunyi di dalamnya; yang tidak dapat dipahami sekali lewat saja. Setiap sebuah potongan cerita dibaca ulang, setiap kali itu pula kita tangkap makna berbeda.

Buku ini tidak cocok bagi orang yang mencari cerita muluk dan konflik dramatis, namun sangat cocok bagi orang yang ingin mendalami makna cinta secara logis dan nyata. Tutur sederhana namun menyimpan makna rumit, di sanalah kehebatan Sapardi mengemas kata-kata dalam setiap karyanya. 

****

Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun bersusun, saling-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri, oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruang kedap suara bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.

Friday, May 27, 2016

Resensi Film: Zootopia

Sejak kecil, Judy Hoops bermimpi ingin menjadi polisi. Ia ingin mengubah dunia jadi lebih baik. Namun mimpinya menjadi bahan tertawaan anak-anak lainnya, bahkan pernah diolok-olok oleh seekor rubah nakal dan gerombolannya. Selain karena bertubuh kecil, kelinci yang berada hampir di urutan ujung rantai makanan tidak mungkin menjadi polisi, ia akan kalah oleh penjahat-penjahat yang biasanya adalah hewan pemangsa. Orang tua Judy pun meragukan cita-cita anaknya tersebut, dan menyarankan agar Judy mengikuti jejak mereka menjadi petani wortel saja.


Hingga dewasa, Judy tetap kukuh pada mimpinya: menjadi polisi. Ia mendaftarkan diri ke akademi polisi. Selama pendidikan dan pelatihan, ia diremehkan oleh pelatihnya karena sering gagal dalam latihan misi. Judy tidak patah arang, dia tetap berusaha memutar otak mencari jalan sukses dengan caranya sendiri. Hingga pada akhirnya ia dinobatkan sebagai akademia dengan nilai tertinggi pada hari kelulusannya dan mendapatkan lencana penghargaan dari Mayor Lionheart. Judy ditempatkan di kepolisian kota metropolitan: Zootopia.

Tibalah saat keberangkatan Judy ke Zootopia. Ia diantar oleh keluarga dan seluruh kelinci di desa. Judy membawa Fox Repellent yang diberikan ayahnya sebagai pelindung jika ia diganggu oleh rubah, mengingat ia punya sedikit trauma sebelumnya. Perjalanan Judy menaiki kereta api melewati berbagai area -- gurun, hujan, salju -- hingga sampailah ia di Zootopia.

Zootopia adalah kota besar yang dihuni oleh sangat banyak spesies hewan. Siapa saja bisa menjadi apa saja -- itulah semboyan Zootopia.

Tibalah hari pertama Judy bekerja di kepolisian. Semua yang ada di kepolisian tercengang karena Judy adalah kelinci pertama yang menjadi polisi. Chief Bogo, kepala kepolisian, masih tidak percaya dengan kemampuan Judy dan hanya menempatkan ia di tugas kontrol parkir. Judy sedikit kecewa dengan tugas yang diberikan kepadanya, namun ia tetap menjalankannya dengan baik.

Saat bertugas, Judy melihat ada seekor rubah yang masuk ke toko es krim. Judy curiga dan mengikutinya. Ternyata rubah itu hanya ingin membelikan es krim untuk anaknya yang sedang berulang tahun. Judy terenyuh, namun gajah pemilik toko es krim tidak mau melayaninya karena ia adalah seekor rubah. Selama ini rubah terkenal dengan kelicikannya. Judy berusaha meyakinkan pemilik toko es krim dan pada akhirnya berhasil. Tak disangka, rubah yang mengaku bernama Nick Wilde itu malah mengemas ulang es krim yang didapatkannya dan menjual kembali dengan keuntungan yang lebih besar. Judy kesal dan merasa tertipu.

Hari kedua bekerja, Judy tetap mengontrol parkir di seluruh kota. Saat semangatnya luntur, tiba-tiba ada kejadian yang membuat ia merasakan menjadi polisi yang sesungguhnya. Seekor musang membobol sebuah toko permen. Judy mengejarnya habis-habisan hingga tiba di kota tikus. Kejar-kejaran mereka membuat kota tikus cukup kacau hingga sebuah monumen berbentuk donat menggelinding dan hampir mencelakai penduduk kota tikus. Untungnya Judy berhasil mengamankan situasi -- mengamankan monumen donat tersebut sekaligus mengamankan si musang pencuri.


Sambutan Chief Bogo jauh dari harapan. Judy malah dimarahi dan hampir dipecat karena tidak bertugas sesuai bidang penugasannya. Tiba-tiba seekor berang-berang masuk ke dalam ruangan Chief Bogo. Clawhauser, resepsionis kepolisian, gagal mencegahnya. Berang-berang itu meminta tolong agar polisi mencari suaminya yang hilang. Chief Bogo menolak permintaan ibu itu dengan alasan seluruh petugas kepolisian sedang ditugaskan menangani kasus besar. Tiba-tiba Judy menawarkan diri. Kebetulan saat itu Bellwether, sekretaris Mayor Lionheart, lewat dan langsung antusias mendengarkan bahwa Judy akan ditugaskan menangani sebuah kasus. Ia langsung mengabari Mayor Lionheart. Chief Bogo tidak punya pilihan lain selain mengijinkan Judy menangani kasus ibu berang-berang tersebut, namun ia memberikan syarat yang cukup sulit kepada Judy: Kasus itu harus terpecahkan dalam kurun waktu 48 jam atau Judy akan dianggap gagal dan dipecat.

Bagaimana Judy memulai menangani kasus yang didapatkannya dengan informasi yang sangat minim? Berhasilkah ia memecahkan kasus tersebut dalam batas waktu yang ditentukan? Mengapa pada akhirnya ia bekerja sama dengan Nick si penipu? Begitu banyak hal-hal mengejutkan yang ditemui Judy.

Walaupun dengan kemasan animasi, Zootopia menawarkan sebuah cerita yang berkualitas. Alur ceritanya tak tertebak dan mengecoh, dibumbui dengan jokes yang tepat pada waktunya. Banyak pesan moral yang bisa dipetik dari cerita ini. Karakter-karakter hewan di dalam film ini secara tersirat mewakili watak manusia. Ada satu-dua sindiran halus terhadap fenomena yang umum terjadi di lingkungan sosial. Zootopia cocok ditonton bersama keluarga, dan aman untuk dipertontonkan kepada anak-anak.

****

Genre: Animation, Action, Comedy
Director: Byron Howard, Rich Moore, Jared Bush
Production Company: Walt Disney
Released: February 17th 2016

Wednesday, May 25, 2016

Resensi Buku: Cerpen Pilihan Kompas 2014

Judul: Cerpen Pilihan Kompas 2014
Penulis: Penulis Terpilih Kompas 2014
Penerbit: PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit: 2015
Dimensi: xvi + 200 halaman, 21 cm
ISBN: 978-979-709-949-7



Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon adalah judul cerpen yang terpilih untuk mewakili Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014 bersama 23 cerpen terpilih lainnya yang juga dimuat dalam kumpulan ini. Cerpen yang dipilih para juri ini adalah karya Faisal Oddang, seorang pengarang muda dari Makassar yang aktif menjadi penggerak komunitas penulis Lego-Lego dan Malam Puisi Makassar. Suatu hal yang membanggakan karena Faisal bersanding dengan penulis-penulis senior lainnya, di antaranya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya, dan nama lainnya yang telah akrab di dunia kepenulisan.

Hampir semua cerpen yang ada dalam antologi ini dapat dijadikan favorit, menciptakan dialog sendiri di kepala, dan ada pula yang membuat hati tergetar saat membaca kemudian tercenung untuk beberapa saat.

Lagi-lagi mengusung tema cinta, Joyeux Anniversaire (Selamat Ulang Tahun) karya Tenni Purwanti begitu menggetarkan. Cerpen Tenni menunjukkan efek destruktif dari cinta, namun tetap saja indah dan tak dapat dielak.

Jalan Sunyi Kota Mati (Radhar Panca Dahana) dan Matinya Seorang Demonstran (Agus Noor) membuat gemas dengan caranya masing-masing mengolah fenomena terkait opini publik.

Menunda-nunda Mati (Gde Aryantha Soethama), Bulu Bariyaban (Zaidinoor), Bukit Cahaya (Yanusa Nugroho) dan Beras Genggam (Gus TF Sakai) mengajak kita 'berwisata' ke dalam nuansa budaya yang berbeda-beda, lengkap dengan petuah, pesan alam dan kisah magisnya.

Kaing-kaing Anjing Terlilit Jaring (Parakitri T. Simbolon) dan Jalan Asu (Joko Pinurbo) mengajak kita berpikir dan merenung. Sesungguhnya setiap hal sederhana yang terjadi, cepat atau lambat, dapat kita petik maknanya untuk melengkapi kearifan hidup.

Kerinduan kepada Sapardi Djoko Damono dijawabnya dengan Lima Cerpen super singkat dan segar, yang menceritakan kematian secara terang dan tersirat.

Sejak pemilihan diselenggarakan tahun 1992, 24 cerpen adalah jumlah terbanyak yang pernah dimuat dalam sebuah buku antologi Cerpen Pilihan Kompas. Mengutip pernyataan Putu Fajar Arcana, "Cerpen-cerpen dalam buku ini mewakili tiga generasi cerpenis Indonesia. Dari mereka kita bisa merunut pertumbuhan cerpen-cerpen Indonesia setidaknya dalam empat dekade terakhir. Kita juga bisa melacak jejak-jejak sosial dan kultural, yang begitu terasa dalam karya-karya mereka."

****

Saturday, May 21, 2016

Resensi Buku: Protokol Hujan

Judul: Protokol Hujan
Penulis: Arco Transep
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun Terbit: 2016
Genre: Kumpulan Puisi
Dimensi: 100 halaman, 19,5 cm
ISBN: 968-602-3091-41-3






Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia kepenulisan, akhirnya Arco Transep hadir dengan kumpulan puisi pertamanya, Protokol Hujan. Protokol hujan adalah kumpulan puisi Arco dalam rentang waktu 2009 hingga 2015, setelah sebelumnya banyak karyanya yang dimuat berbagai media cetak secara terpisah.

Arco adalah orang yang peka dan berhasil menggambarkan segala rasanya melalui kata. Arco cerdas memilih kata, sederhana dan mengena. Seperti teriakan hati yang secara teratur keluar satu per satu minta dibaca, dan ya, terbaca. Sangat jelas. Puisi-puisi Arco menggambarkan perpisahan, kenangan, kehilangan, dan kepulangan. Saat membaca puisi-puisi Arco, saya kadang terhenti dan membaca ulang lagi dari awal karena ingin meresapi perasaan yang tiba-tiba datang di tengah maupun akhir puisinya.


Suatu hari aku ingin pergi ke gunung-gunung yang pasrah menerima lelah.
Mungkin ke hutan-hutan yang membuat tenang.
Atau mungkin ke pantai-pantai yang tak menolak dideru air-air asin yang dibawa lautan.

Suatu hari aku ingin pergi, tanpa meninggalkan jejak raut di ingatanmu.
Mungkin air mata yang membuatmu menyesali kehilangan kehilangan berkali-kali.
Atau mungkin diam-diam beranjak sebelum kau berharap pagi dan aku tetap di sampingmu.

Suatu hari aku ingin kita pergi tanpa sepatah kata, tanpa puisi yang akan kau baca saat sunyi, juga tanpa nyeri yang membuat matamu perih dan masuk angin.
Sebab, suatu hari kita akan berpapasan dan takkan saling mengenali.

Jejak Kepulangan - Arco Transep

Endorsement:
Dalam puisi-puisi di buku ini, kita bisa melihat Arco seolah selalu sensitif dengan segala hal. Apa yang ia lihat, ia rasakan, semuanya ia jahit dalam kata-katanya. Arco seolah memiliki indra yang peka. Ia merasakan desir angin, membaca berita cuaca, memendam dan menyatukannya dengan apa yang ia rasakan, lalu menulisnya dengan hati-hati sebagai puisi. Kalimat-kalimatnya sederhana dan lugas, ia tak kewalahan dengan beban bahasa. Rasanya semua bekal sensitifitas itu sudah cukup sebaga bekalnya berjalan di jalan kepenyairan.
~ Irwan Bajang, Penulis Buku Puisi Kepulangan Kelima.

Puisi selalu dibentuk dari perhatian. Dan perhatian memerlukan kepekaan yang cukup untuk dapat melihat kebanyakan yang luput dilihat. Kepekaan itu pun harus dibarengi dengan keterampilan bahasa yang butuh terus diasah, bak sebuah pisau, lebih tajam lebih dapat menusuk hingga ke dalam. Harko memiliki kepekaan itu dan dalam kumpulan puisi ini, kita dapat melihat cara Harko mengasah pisaunya.
~ Pringadi Abdi Surya, Penyair dan Penulis Novel 4 Musim Cinta.

Seperti memaknai tujuan perjalanan, membaca "Protokol Hujan", ada yang menancapkan mantra dalam-dalam ke liang ingatan; bahwa kilometer adalah nol, namun seakan ada pula yang mengulurkan tangan, hendak mengajak kembali bertamasya ke masa lampau. Harko Transep tahu betul cara menuliskan jejak hati di setiap halaman bukunya. Selamat merayakan kepulangan, kumpulan puisi yang menyenangkan!
~ Delbin Clyte, Novelis dan Penulis Skenario.

Ada puisi yang lancar dituliskan, namun ada juga pengalaman batin yang sukar diungkapkan. Demikianlah penyair belajar dan terus belajar untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Hingga puisi sampai kepadamu.
~ Nanang Suryadi, Penyair dan Dosen Universitas Brawijaya.

***

Setelah pertama kalinya launching di Jogja bersama Indie Book Corner dalam "Bincang Buku & Baca Puisi Protokol Hujan" pada 6 Mei lalu, kini giliran Palembang yang akan menyambut dalam "Malam Puisi Protokol Hujan". Malam ini.


Malam Puisi Palembang ke-31 akan hadir

.
"PROTOKOL HUJAN"

Peluncuran, Pembacaan dan Bedah buku puisi milik Arco Transept

Sabtu, 21 Mei 2016
19.00
Di Gowes Chat And Fun


Datang, Dengar dan Bacakan Puisimu!
Sampai bertemu.